Breaking News
"Berita" adalah sajian informasi terkini yang mencakup peristiwa penting, fenomena sosial, perkembangan ekonomi, politik, teknologi, hiburan, hingga bencana alam, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Kontennya disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif, akurat, dan dapat dipercaya sebagai sumber referensi publik.
Republik Merdeka
Republik Merdeka
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Muhammad Idrus Penjaga Nada Gambus dari Tanah Grogot yang Karyanya Tembus Malaysia

Muhammad Idrus Penjaga Nada Gambus dari Tanah Grogot yang Karyanya Tembus Malaysia

cek disini

Info Tanah Grogot – Muhammad Idrus, Di tengah gempuran modernisasi yang kian menggerus tradisi, masih ada sosok-sosok teguh yang setia menjaga warisan budaya. Salah satunya adalah Muhammad Idrus, atau yang akrab disapa Uda Idrus, seorang pengrajin gambus asal Tanah Grogot, Paser, Kalimantan Timur. Selama lebih dari tiga dekade, pria berusia 59 tahun ini telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan alat musik tradisional khas Paser. Tak hanya dikenal di dalam negeri, karyanya bahkan telah menembus pasar Malaysia.

Dari Pesisir Sungai Kandilo ke Dunia Kerajinan Gambus

Lahir pada 1966 di Tanah Grogot, masa kecil Idrus diwarnai oleh kehidupan masyarakat pesisir Sungai Kandilo yang kental dengan adat dan tradisi. Sejak muda, ia sudah terpesona dengan suara merdu gambus alat musik petik bernuansa Melayu yang kerap mengiringi tari Ronggeng dan berbagai upacara adat.

Meski menempuh pendidikan formal di jurusan Manajemen Perkantoran SMK Negeri 1 Tanah Grogot, jalan hidupnya justru membawanya ke dunia kerajinan tradisional. “Dulu, saat masih muda, belum ada yang serius membuat gambus. Saya penasaran dan ingin mencoba,” kenangnya.

Belajar Secara Otodidak, Berkarya dengan Ketekunan

Tanpa guru maupun panduan tertulis, Idrus memulai perjalanannya sebagai pengrajin gambus secara otodidak. Ia mengandalkan ingatan dan pengamatan terhadap gambus yang pernah ia lihat. Proses pembuatannya pun tidak mudah—dengan peralatan seadanya, ia menghabiskan waktu 5 hingga 7 hari hanya untuk menyelesaikan satu gambus.

“Dulu masih pakai pahat manual, ukiran pun dibuat perlahan. Sekarang sudah ada mesin, prosesnya lebih cepat, hanya butuh 3 hari,” ujarnya.

Material yang digunakan pun berevolusi. Jika dulu ia memakai kayu besar yang berat, kini ia beralih ke kayu meranti yang lebih ringan namun tetap kokoh dan menghasilkan suara yang jernih.

Gambus Paser: Keunikan yang Tak Tertandingi

Menurut Idrus, gambus Paser memiliki ciri khas yang membedakannya dari gambus daerah lain. “Gambus kami tidak memiliki fret (penanda nada), dan bentuk kepala serta bodinya unik,” jelasnya.

Muhammad Idrus Penjaga Nada Gambus dari Tanah Grogot yang Karyanya Tembus Malaysia
Muhammad Idrus Penjaga Nada Gambus dari Tanah Grogot yang Karyanya Tembus Malaysia

Baca Juga: Timnas Indonesia U-23 Tak Perlu Uji Coba Jelang ASEAN U-23 Championship

Karyanya tidak hanya berupa gambus standar, tetapi juga varian modern yang dilengkapi pick-up (spull), memungkinkan alat musik tradisional ini dimainkan dengan amplifier. Harganya bervariasi:

  • Rp600.000 untuk gambus standar

  • Rp800.000 untuk gambus dengan spull

Dalam sebulan, Idrus mampu menjual 5 hingga 7 gambus, tergantung permintaan.

Tak Hanya Gambus Kerajinan Lain yang Turut Dilestarikan

Selain gambus, Idrus juga membuat berbagai kerajinan khas Paser, seperti:

  • Mandau (senjata tradisional Kalimantan) dalam berbagai ukuran

  • Tameng (perisai tradisional)

  • Souvenir khas Paser yang sering dijadikan cenderamata

Ia mempromosikan karyanya melalui akun Facebook “M IdrusPengrajin Paser”, yang menjadi gerbang pemasaran hingga ke luar daerah. “Banyak pesanan dari Jawa, bahkan pernah ada yang dari Malaysia,” ungkapnya dengan bangga.

Di balik kesuksesannya, Idrus menyimpan rahasia yang mendalam. Minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional kian memudar. “Kalau ada anak muda yang mau belajar, saya dengan senang hati akan mengajarinya,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib pengrajin tradisional di daerah. “Semoga alat musik daerah seperti gambus bisa lebih diangkat, para pengrajin di pinggiran juga perlu dukungan,” tuturnya.

Di sore yang tenang, ketika angin dari Sungai Kandilo berembus pelan, Idrus tetap setia duduk di halaman rumahnya, mengukir dan merangkai gambus dengan penuh dedikasi. Baginya, setiap petikan nada gambus adalah cerita, setiap ukiran adalah warisan.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *